Berita PetaniCatatan Geoekonomi Nasional Petani : Petani Perempuan Pilar Tersembunyi Ketahanan Pangan 2026

Catatan Geoekonomi Nasional Petani : Petani Perempuan Pilar Tersembunyi Ketahanan Pangan 2026

“Jikalau tidak dengan keringat kaum tani, mana bisa kita mencapai satu masyarakat yang adil dan makmur, cukup sandang, cukup pangan, gemah-ripah loh-jinawi,” (Pidato Presiden Sukarno pada Pembukaan Musyawarah Besar Tani seluruh Indonesia, Jakarta – 20 Juli 1965).

www.petani.id – (#SDMPetaniUnggul – Editorial – 06/01/2026). Tahun 2026 telah ditetapkan sebagai International Year of the Woman Farmer oleh Food Agriculture Organization (FAO) dan Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB), sebuah momentum penting untuk menyoroti peran perempuan dalam sistem pangan global. Di Indonesia, terdapat lebih dari 37% tenaga kerja pertanian adalah perempuan, dan isu ini bukan sekadar simbolik. Isu ini berkaitan erat dengan keberlanjutan peradaban pangan itu sendiri.

Di tengah ancaman perubahan iklim, ketimpangan akses, dan disrupsi pasar global, perempuan petani justru menjadi fondasi paling tenang sekaligus paling rapuh dari ketahanan pangan nasional.

Realitas Perempuan di Lumbung Pangan

Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) menunjukkan bahwa kontribusi perempuan terhadap sektor pertanian meningkat sekitar 11% dalam lima tahun terakhir, terutama di subsektor hortikultura dan pangan lokal. Namun ironinya, lebih dari 70% petani perempuan tidak memiliki lahan sendiri dan hanya berstatus buruh tani atau penggarap. Ketimpangan ini berdampak langsung pada kemampuan mereka berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim maupun fluktuasi harga.

Laporan FAO (2025) juga menyebut bahwa jika perempuan mendapat akses yang sama terhadap sumber daya produksi, berupa lahan, benih unggul, pupuk, dan teknologi, maka produksi pertanian bisa meningkat hingga 30% di negara berkembang. Potensi ini bisa mengentaskan lebih dari 100 juta orang dari kelaparan kronis secara global.

Dalam konteks Indonesia, angka ini berarti peluang strategis bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis keadilan gender dan komunitas lokal.

Filsafat dari Tanah dan Ibu

Filsuf Simone de Beauvoir pernah menulis, “One is not born, but rather becomes, a woman.” Kalimat ini menemukan maknanya di ladang-ladang Nusantara: perempuan bukan sekadar bagian dari tenaga kerja, melainkan entitas sosial yang membentuk kehidupan. Dalam masyarakat agraris, mereka adalah penenun yang sunyi dan tekun dalam kesinambungan antara alam, manusia, dan nilai-nilai hidup.

Filsafat agraria Indonesia sesungguhnya berakar pada harmoni antara manusia dan bumi. Dalam pandangan Soekarno, “tanah untuk kemakmuran rakyat” bukan hanya slogan, melainkan prinsip etika produksi pangan yang berbasis keadilan sosial. Maka ketika akses perempuan terhadap lahan dikebiri, sesungguhnya sebagian nilai moral bangsa juga tercederai.

Teori Gender and Development (Moser, 1993) menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus memperhitungkan peran produktif, reproduktif, dan komunitatif perempuan. Dalam pertanian, ini berarti kebijakan yang tidak hanya memfokuskan perempuan sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai pengambil keputusan dan inovator dalam rantai pasok pangan.

Tantangan Struktural dan Krisis Pangan

Di era pasca-pandemi dan krisis energi global, Indonesia masih menghadapi kerentanan pangan. Indeks Ketahanan Pangan Global 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 63 dari 113 negara, sedikit meningkat dibanding 2024. Namun ketimpangan wilayah, kerusakan ekologis, alih fungsi lahan dan urbanisasi telah memperburuk situasi petani kecil, terutama perempuan yang kerap tertinggal dari akses digitalisasi dan bantuan modal.

Krisis iklim menambah tekanan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) (BMKG) (2025), pola curah hujan ekstrem telah menurunkan produktivitas padi hingga 8–10% di beberapa provinsi sentra beras. Padahal, petani perempuan adalah garda depan dalam menjaga keanekaragaman benih lokal yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Tanpa dukungan sistemik, keunggulan ini akan hilang dalam arus industrialisasi pertanian berbasis korporasi.

Solusi: Pemberdayaan, Teknologi, dan Etika

  1. Reformasi akses lahan menjadi kebutuhan mendesak. Program redistribusi tanah dan sertifikasi bersama antara suami-istri seperti yang mulai diujicobakan di Jawa Tengah perlu diperluas secara nasional.
  2. Digitalisasi pertanian inklusif: pemerintah dapat memperkuat digital farmer school berbasis komunitas, dengan pelatihan teknologi sederhana seperti sistem irigasi sensorik murah atau aplikasi pasar online yang memungkinkan petani perempuan menjual langsung hasil panennya.
  3. Koperasi perempuan pangan atau kelompok perempuan produktif dapat menjadi sarana ekonomi alternatif yang mengintegrasikan produksi, distribusi, dan konsumsi lokal. Koperasi seperti “Lumbung Ibu” di Nusa Tenggara Timur yang mempraktikkan pertanian organik dan simpan-pinjam berbasis hasil panen menjadi contoh keberhasilan yang bisa direplikasi.
  4. Etika pangan berkepribadian Indonesia—di mana pangan tidak semata komoditas ekonomi, tetapi simbol martabat dan gotong royong.

Dalam semangat ini, setiap kebijakan harus memuliakan tangan-tangan perempuan yang menanam, bukan hanya mereka yang berdagang di pasar modal. Sebagaimana dikatakan Mahatma Gandhi, “To forget how to dig the earth and to tend the soil is to forget ourselves.” Dalam konteks Indonesia, melupakan perempuan petani berarti melupakan akar kebangsaan sendiri. Tahun 2026 bukan sekadar momentum global, melainkan panggilan moral bagi bangsa ini untuk menegakkan kembali keadilan pangan yang berakar dari bumi dan berjiwa ibu.

spot_img

Catatan Geopolitik Nasional Petani Ketika Negara Kehilangan Ruang: Kritik atas Tata Ruang Ekologis, Kedaulatan, dan Ketidaksiapan Menghadapi Abad Bencana

www.petani.id – (#SDMPetaniUnggul – Editorial – 11/12/2025). Benarkah Indonesia Negara...

Dari Representasi ke Eksekusi Swasembada Pangan, Energi dan Air Nasional; Arah Baru Kepemimpinan Nasional Presiden Prabowo Subianto

www.petani.id – (#SDMPetaniUnggul – Editorial – Jakarta, 20/11/2025). Kajian...

Catatan Geostrategis Internasional Petani : Indonesia Sebagai Nahkoda Arah Bangsa-Bangsa Membangun Dunia Baru

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - 26/10/2025). Kajian Bidang Hukum...

KELUARGA BESAR PETANI MENGUCAPKAN DIRGAHAYU PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO ke 74 Tahun

"Mewujudkan Pertahanan Pangan, Energi dan Air berdasarkan Pancasila dan...

Catatan Geopolitik Internasional Petani: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia yang Damai

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - 16/10/2025). Kajian Bidang Hukum...
spot_img
WhatsApp chat