Berita Petani

Uji Efektivitas Formula Natural Growth Promotor Pada Ternak Unggas

 “Rumusan masalah dalam pelaksanaan penelitian ini adalah: 1.) Bagaimana cara menekan angka kematian hewan ternak., 2.) Bagaimana meningkatkan produktifitas ternak., 3.) Bagaimana memanfaatkan potensi kekayaan alam lebih efektif., 4.) Bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan Petani Pembudidaya Ternak., 5.) Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan protein hewani pada masyarakat Indonesia. Selain itu tujuan dalam pelaksanan penelitian ini untuk: 1.) Meningkatkan kesehatan ternak., 2.) Meningkatkan produktifitas dan kualitas ternak., 3.) Meningkatkan kesejahteraan Petani Pembudidaya Ternak., 4.) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam.” kata Drajat Nugroho Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung.

Petani.id

petani.id – (SDM Petani Unggul – Tulungagung, 21/08/2019). Kesehatan hewan ternak dan pertumbuhan yang pesat adalah idaman para Petani Pembudidaya Ternak, ditambah bertambahnya daya serap nutrisi pakan oleh ternak. Hal itu diupayakan semata mata untuk meningkatkan kesejahteraan Petani Pembudidaya Ternak. Antibiotic Growth Promotor (AGP) dulu menjadi kebutuhan pokok yang terkandung dalam ransum ternak. Namun setelah dicabutnya peredaran dan penggunaan AGP tersebut oleh Kementerian Pertanian (Kementan), nasib Petani Pembudidaya Ternak khususnya tingkat menengah sampai kecil kebingungan dan bahkan banyak yang gulung tikar karena faktor ketergantungan tersebut. Dengan dasar pemanfaatan kearifan lokal yang selalu digunakan dan menjadi dasar pemikiran Laboratorium Kedaulatan Pangan dan Agribisnis Kerakyatan (Lab. KPAK) Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia (Petani) Unit Tulungagung salah satu badan otonom Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Petani, atas arahan Ketua Umum Petani untuk melakukan penelitian dan menggali sumberdaya alam lokal nusantara yang berupa rempah – rempah, tanaman dan buah obat serta sumber vitamin yang mempunyai kandungan antioksidan, antibiotik, antiinflamasi, vitamin – vitamin dan mineral didalamnya. Untuk membantu Petani Pembudidaya Ternak agar bisa lebih terjaga kesehatan hewan ternak, peningkatan keuntungan karena pertumbuhan optimal, meningkatkan kualitas hasil budidaya hewan ternak, dilakukanlah penelitian dan segala upaya uji efektivitas ini serta bisa di distribusikan kepada Petani Pembudidaya Ternak di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut diatas yang melatarbelakangi diadakannya penelitian agar Petani Pembudidaya Ternak menjadi lebih sejahtera.

  “Rumusan masalah dalam pelaksanaan penelitian ini adalah: 1.) Bagaimana cara menekan angka kematian hewan ternak., 2.) Bagaimana meningkatkan produktifitas ternak., 3.) Bagaimana memanfaatkan potensi kekayaan alam lebih efektif., 4.) Bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan Petani Pembudidaya Ternak., 5.) Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan protein hewani pada masyarakat Indonesia. Selain itu tujuan dalam pelaksanan penelitian ini untuk: 1.) Meningkatkan kesehatan ternak., 2.) Meningkatkan produktifitas dan kualitas ternak., 3.) Meningkatkan kesejahteraan Petani Pembudidaya Ternak., 4.) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam.” kata Drajat Nugroho Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung.

Drajat menjelaskan juga dengan detail bahwa bahan-bahan yang digunakan: 1.) Rempah – rempah adalah bagian tumbuhan beraroma atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan sebagai pengawet atau perisa dalam masakan. Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering. Rempah – rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Banyak rempah – rempah dulunya digunakan dalam pengobatan, tetapi sekarang ini berkurang. Rempah – rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku. Rempah – rempah ini pula yang menyebabkan Belanda kemudian menyusul ke Maluku, sementara itu, bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magellan telah lebih dahulu mencari jalan ke Timur melalui jalan lain yakni melewati Samudera Pasifik dan akhirnya mendarat di pulau Luzon Filipina. Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil rempah – rempah dunia. 2.) Tanaman obat adalah tumbuhan yang telah diidentifikasi dan diketahui berdasarkan pengamatan manusia memiliki senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, melakukan fungsi biologis tertentu, hingga mencegah serangan serangga dan jamur. Setidaknya 12 ribu senyawa telah diisolasi dari berbagai tumbuhan obat di dunia, tetapi jumlah ini hanya sepuluh persen dari jumlah total senyawa yang dapat diekstraksi dari seluruh tumbuhan obat. Pemanfaatan tanaman sebagai obat telah ada sejak zaman prasejarah manusia. Pada tahun 2001, para peneliti telah mengidentifikasi bahwa 122 senyawa yang digunakan di dunia kedokteran modern merupakan turunan dari senyawa tumbuhan yang sudah digunakan sejak zaman prasejarah. Begitu banyak obat – obatan yang tersedia saat ini merupakan turunan dari pengobatan herbal, seperti aspirin yang terbuat dari kayu pohon dedalu, juga digitalis, quinine, dan opium. WHO memperkirakan bahwa 80 % (persen) warga di benua Asia dan Afrika memanfaatkan pengobatan herbal untuk beberapa aspek perawatan kesehatan. Amerika Serikat dan Eropa memiliki ketergantungan yang lebih sedikit, tetapi memperlihatkan kecenderungan meningkat sejak efektivitas beberapa tumbuhan obat telah teruji secara ilmiah dan terpublikasikan. Pada tahun 2011, total tumbuhan obat yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai nilai lebih 2.2 miliar USD. Dengan sumber yang berasal dari tumbuhan, maka kekayaan hayati suatu negara seperti hutan menjadi penting, dan kerusakan hutan mengancam keberadan tumbuhan obat yang pernah dan saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat adat penghuni kawasan hutan dan sekitarnya. Keanekaragaman hayati di dalam hutan penting selain sebagai sarana melestarikan spesies tumbuhan obat untuk manusia, juga dapat menjadi sumber obat – obatan darurat bagi hewan langka yang ada di cagar alam. Tumbuhan yang bermanfaat tersebut perlu diidentifikasi dan diteliti lebih lanjut, dan pakar konservasi atau jagawana perlu dilatih untuk menggunakan tumbuhan obat tersebut. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat di dalam hutan dapat digali dari masyarakat setempat berdasarkan pengalaman mereka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat Suku Tugutil di Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera, memiliki pengetahuan terhadap setidaknya 116 spesies tumbuhan lokal, dengan 71 spesies dimanfaatkan sebagai tanaman pangan dan 45 spesies dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Dan yang terakhir 3.) Buah obat dan sumber vitamin, buah memang sangat banyak manfaatnya, dari kulit sampai daging buah pun bisa dimanfaatkan. Buah biasanya digunakan sebagai pelengkap menu empat sehat lima sempurna. Selain itu digunakan pula untuk campuran berbagai jenis makanan, pencuci mulut sesudah makan, program untuk diet, pembersih peralatan dapur, perawatan kecantikan untuk wajah dan tubuh. Bahkan buah pun bermanfaat sebagai obat untuk kesehatan.

“Penelitian dan ujiefektivitas ini dilaksanakan Juni 2018 sampai Juni 2019 di Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung. Untuk alat – alat menggunakan alat sederhana dan bahan yang ada di sekitar lingkungan kita saja. Untuk alat menggunakan: 1.) Penggiling / penghancur bahan segar tanpa penambahan air., 2.) Tong plastik dengan tutup rapat kedap udara untuk proses fermentasi dan penampungan., 3.) Kompor dan panci untuk proses sterilisasi alat dan bahan., 4.) Alat pengaduk dari kayu., 5.) Penyaring dan alat pemeras. Sedangkan untuk bahan yang digunakan adalah: 1.) Rempah – rempah yang didapat dari budidaya tanpa pupuk sintetis dan pestisida sintetis., 2.) Tanaman dan buah obat yang didapat dari budidaya tanpa pupuk sintetis dan pestisida sintetis., 3.) Madu murni yang didapat dari perburuan di hutan., 4.) Gula merah dipilih gula yang dalam prosesnya tidak menggunakan soda dan bahan kimia lainnya., 4.) Susu., 5.) Stater bakteri fermentasi GS yang tahan terhadap berbagai suhu dan kandungan tinggi minyak atsiri., 6.) Alkohol.” jelas Drajat Nugroho Kepala Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung dengan rinci dan detail.

Drajat juga menambahkan bahwa ada 15 langkah dalam proses pembuatannya sesuai prosedur kerja, mulai dari: 1.) Penyiapan alat penggilingan dan tong fermentasi dengan sterilisasi menggunakan air panas dan alkohol., 2. Pengupasan dan pencucian bahan rempah – rempah, tanaman dan buah obat., 3.) Sterilisasi bahan setelah pengupasan dan pencucian dengan air panas., 4.) Penggilingan seluruh bahan rempah – rempah, tanaman dan buah obat sampai halus seperti bubur bayi., 5.) Hasil penggilingan langsung dimasukkan tong fermentasi yang telah disiapkan dan sudah steril., 6.) Menambahkan gula merah, susu, madu dan bakteri fermentasi., 7.) Menutup tong fermentasi dengan rapat dan kedap udara., 8.) Menempatkan tong yang sudah terisi ditempat yang bersih dan ternaungi dari sinar matahari., 9.) Selama proses fermentasi setiap hari tong dibuka dan diaduk sekali dalam sehari., 10.) Proses fermentasi membutuhkan waktu 2 bulan untuk mendapatkan hasil yang optimal., 11.) Setelah proses fermentasi selesai bahan siap diperas dan disaring., 12.) Pemerasan dan penyaringan., 13.) Memasukkan kedalam tong penampungan hasil pemerasan dan penyaringan., 14.) Hasil penyaringan dibiarkan dalam tong penampungan selama 1 bulan untuk pengendapan dan mendormankan bakteri fermentasi., 15. Setelah 1 bulan hasil sudah siap diaplikasi.

-. Redaksi: Departemen Propaganda.

-. Laporan / Liputan: Lab. KPAK Petani Unit Tulungagung.

-. Editor: Bidang Propaganda & Jaringan – Dewan Pimpiman Nasional Petani.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
WhatsApp chat