Berita Petani

MANIFESTO KAMPANYE NASIONAL GERAKAN SUSU UNTUK ANAK INDONESIA SEHAT DAN CERDAS

Peternakan sapi perah pertama kali di Indonesia berlokasi di Bandung, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, pada masa Hindia Belanda. Di dalam catatan sejarah di Wilayah Bandung pada tahun 1938 terdapat 22 usaha pemerahan susu dengan produksi 13.000 liter susu per hari.

Petani.id

petani.id

LATAR BELAKANG

Susu merupakan produk cair berwarna putih yang mengandung nilai gizi yang tinggi yang disekresikan oleh kelenjar mamae dari hewan betina dengan tujuan utama untuk memberi makan anaknya. Karena kandungan gizi yang tinggi di dalam susu, manusia pun memanfaatkannya sebagai sumber pemenuhan gizi bagi kesehatan manusia. Meski dikenal berbagai jenis susu yang dapat dikonsumsi sebagai sumber pemenuhan kebutuhan gizi seperti susu kambing, kerbau, bahkan unta, namun susu yang berasal dari sapi masih menjadi pilihan populer bagi masyarakat. Produksi susu Indonesia mengalami stagnan sejak tahun 2008, berkisar antara 1,6 juta liter/hari. Produksi ini berasal dari jenis sapi perah Friessian Holstein (FH) dan keturunannya yang berwarna hitam putih. Jumlah produksi ini dikhawatirkan akan menurun karena terjadinya pemotongan ternak sapi khususnya di daerah penghasil susu seperti Boyolali selama dua tahun terakhir.

Konsumsi susu di Indonesia relatif rendah yaitu 11,4 kg / susu / kapita / tahun, sementara rata-rata konsumsi susu negara berkembang adalah 70 kg / kapita / tahun. Meskipun termasuk rendah, namun konsumsi susu di Indonesia menunjukkan peningkatan. Dan tanpa melakukan promosi apapun, secara natural konsumsi susu di dalam negeri diperkirakan meningkat sekitar 10% pertahun akibat pertumbuhan penduduk dan kenaikan pendapatan per kapita.

Kecenderungan peningkatan konsumsi susu sapi yang belum dapat diimbangi oleh peningkatan produksi di dalam negeri menyebabkan pemenuhan permintaan di dalam negeri masih harus dipenuhi melalui impor. Kontribusi produksi susu nasional sejumlah 646.953 ton pada tahun 2009 baru dapat memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan nasional sehingga 70 persen sisanya masih dipenuhi melalui impor. Pada tahun yang sama, data Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) sebagaimana disampaikan dalam Rencana Strategis (Renstra) 2010-2014 tercatat impor susu sebesar 173.305 ton.

Perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat terutama dari produk susu tampak pada Renstra Ditjen PKH Kementan tahun 2010 – 2014. Didalam Renstra ini disebutkan bahwa pemenuhan konsumsi pangan dari hasil ternak bagi masyarakat menunjukkan peningkatan selama kurun waktu 2006 – 2009. Untuk susu, di satu sisi terjadi peningkatan produksi dari 616,5 ton pada tahun 2006 menjadi 827,2 ton pada tahun 2009. Namun, di sisi lain importasi masih harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan didalam negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor susu sejumlah 173.305,30 ton pada tahun 2009.

Lebih lanjut penyediaan dan keamanan pangan hewani adalah salah satu dari enam kunci di dalam Visi Renstra Ditjen PKH Kementan, yang diartikan sebagai upaya mencapai kecukupan ketersediaan pangan hewani, stabilitas ketersediaan pangan hewani, keamanan pangan dari produk peternakan berkualitas yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Di dalam arah kebijakan dan strategi secara jelas memaparkan kebijakan peningkatan produksi susu segar, buah lokal dan produk-produk substitusi komoditas impor. Untuk itu, dalam aspek populasi dan produktivitas ternak, kebijakan diarahkan antara lain untuk melaksanakan revitalisasi persusuan.

Wujud kepedulian Pemerintah terutama dalam hal mendorong konsumsi susu segar adalah dengan bentuk pencanangan Hari Susu Nusantara (HSN) yang diperingati setiap tanggal 1 Juni berdasarkan SK Mentan No.2182/Kpts/PD.420/5/2009. Pada peringatan HSN ke-4 tahun 2012 yang diselenggarakan di Yogyakarta, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan menyampaikan langkah strategis pembangunan Agribisnis Sapi Perah 2010-2014 meliputi: 1) peningkatan populasi; 2) peningkatan produksi susu; 3) peningkatan kualitas susu; 4) pembinaan efisiensiusaha; dan 5) pembinaan kelembagaan peternak.

Pada peringatan HSN ke-5 yang dipusatkan di Bukit Tinggi Sumatera Barat, Menteri Pertanian (Mentan) menyampaikan ajakan kepada semua pihak terkait untuk berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam penyediaan susu bagi anak-anak usia sekolah, mengingat susu merupakan bahan pangan cair sumber protein hewani yang penting dalam pemenuhan gizi dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Peringatan HSN ke-5 ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas pentingnya minum susu segar, mengingkatkan konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia demi terwujudnya peningkatan kualitas gizi bangsa, meningkatkan produksi susu dalam negeri, mengurangi kebutuhan impor susu, meningkatkan pengembangan agribisnis persusuan nasional terutama usaha industri pengolahan susu skala kecil, mengajak dan mengadvokasi para pelaku dan pemangku kepentingan bidang industri susu untuk mengembangkan industri susu nasional. Adapun sasarannya adalah peningkatan konsumsi susu dalam negeri, peningkatan produksi susu ternak, peningkatan populasi ternak, menggerakkan ekonomi dipedesaan dan peningkatan gizi masyarakat.

Adanya program seperti HSN merupakan langkah yang baik dalam upaya mendukungagribisnis persusuan lokal terutama skala kecil dan menengah, mengingat saat ini pengolahan susu masih sangat didominasi oleh industri pengolahan susu skala besar dengan produk olahan susu bentuk bubuk dan kental manis.

Susu cair dikenal dalam dua bentuk, yaitu susu UHT dan susu Pasteurisasi. Susu UHT diperoleh melalui proses sterilisasi susu pada pemanasan suhu sangat tinggi yaitu sekitar 104° – 140°C dengan waktu yang sangat pendek, kurang lebih 1 sampai dengan 4 detik. Pemanasan tipe ini bertujuan untuk membunuh semua bakteri, pathogen maupun non-pathogen. Susu Pasteurisasi adalah cara pengolahan susu sugar melalui proses pemanasan pada suhu 62°C selama 30 menit atau pemanasan susu pada 72°C selama 15 detik. Tujuan pasteurisasi antara lainadalah untuk membunuh bakteri pathogen dan mempertinggi atau memperpanjang daya simpan.

Konsumsi susu cair khususnya susu sapi murni masih terbatas, antara lain karena masa simpannya relatif pendek sehingga harus segera dikonsumsi. Tersedianya berbagai pilihan jenis susu baik dalam bentuk cair ataupun yang lain dengan merek yang tidak kalah beragam juga berpengaruh terhadap besarnya permintaan, karena pada akhirnya konsumenlah yang memegang peranan penting dalam memilih susu yang sesuai dengan preferensi masing-masing individu. Dengan demikian produsen harus jeli dalam membaca dan memahami preferensi konsumen dan berupaya agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan konsumen.

SAPI PERAH DAN PENGOLAHAN SUSU SAPI
1. Sapi Perah
Sejarah domestikasi sapi diduga terjadi antara 6.000 sampai dengan 10.000 tahun yang lalu. Dokumentasi tertua yang dapat diperoleh tentang arti penting sapi bagi manusia ditemukan dalam suatu naskah Sansekerta kuno di India yang berumur sekitar 6.000 tahun. Demikian pentingnya arti sapi khususnya bagi masyarakat Asia Tengah, tingkat kesejahteraan seseorang dilihat dari berapa jumlah sapi yang dimilikinya. Selanjutnya dalam perkembangan peradaban, manusia mulai menyadari arti penting susu tidak hanya bagi bayi dan anak-anak namun juga bagi manusia dewasa. Oleh karena itu, melalui seleksi breeding, manusia berupaya memanfaatkan hewan ternak sebagai penghasil susu bagi kebutuhan pangannya terutama dari sapi dan kambing. Hewan lain yang juga menjadi sumber susu bagi konsumsi manusia adalah kerbau, domba,dan unta.

Secara umum, susu yang berasal dari hewan mamalia yang berbeda memiliki komposisi dasar yang sama, namun dengan komposisi dan khasiat yang berbeda. Pada dasarnya susu terdiri dari 87,25 % air, 3,8% lemak, 3,5% protein, 4,8% gula dan 0,65% abu. Meski terdapat berbagai jenis hewan ternak yang dapat diambil susunya bagi kepentingan manusia, namun sampai sekarang, sapi menjadi ternak utama untuk memenuhi kebutuhan susu.

Susu sapi diperoleh dari sapi perah, yaitu sapi betina yang dipelihara untuk diambil susunya. Bangsa sapi perah dibagi menjadi dua, yaitu Bos taurus dan Bos indicus. Bos taurus adalah bangsa sapi yang hidup di daerah subtropis ataudi daerah yang memiliki empat musim. Ciri utamanya adalah tidak memiliki punuk di punggungnya, seperti Shorthorn, Guersey, Holtstein Friesian/Fries Holland(FH), Ayshire, Jersey, Brown Swiss, Red Danish, Droughtmaster. Bangsa sapi Bos indicus adalah bangsa sapi yang hidup di daerah tropis atau beriklim panas, dengan ciri utama mempunyai punuk di punggungnya. Contoh bangsa sapi perah ini antara lain Zebu, Red Sindhi, Grati (persilangan antara sapi FH dan sapi Jawa atau Madura), Sahiwal, dan Sahiwal Cross.

Meski berdasarkan ciri iklim Indonesia sapi perah yang sesuai dipelihara di daerah tropis adalah sapi yang berasal dari bangsa Bos indicus, namun jika melihat sejarah perkembangan peternakan sapi perah maka sapi FH lebih umum diternakkan di Indonesia dengan ciri-ciri sapi perah FH sebagai berikut:
1) berwarna belang hitam dan putih atau coklat dan putih;
2) kaki bagian bawah dan ekornya berwarna putih;
3) tanduk pendek dan menghadap ke muka;
4) terkadang pada dahi terdapat belang warna putih berbentuk segitiga;
5) sifat jinak dan mudah dikuasai;
6) tidak tahan panas;
7) lambat dewasanya;
8) berat badan pejantan rata-rata 850 kg atau lebih, sedang yang betina dpat mencapai 650 kg;
9) produksi susu rata-rata pertahun di daerah asalnya (Belanda) bisa mencapai 4.500 sampai dengan 5.500 liter dalam satu laktasi (305 hari) dan berkadar lemak 3 sampai 7%; dan
10) bertubuh tegap.

Sapi FH yang dipelihara di Indonesia cenderung dipelihara di daerah berhawa dingin atau pada ketinggian lebih dari 800 m dpl, misalnya di Batu, Jawa Timur, Lembang, Jawa Barat, Salatiga, Jawa Tengah, dan sebagainya. Meski lebih cocok dipelihara di daerah dingin dan dataran tinggi, namun FH juga dipelihara di daerah panas berketinggian dibawah 500 m dpl seperti di DKI Jakarta. Menurut data Ditjen Peternakan, jumlah populasi sapi perah di DKI Jakarta mencapai 3.446 ekor pada tahun 2007, namun jumlah produksinya rendah, sekitar 6 kg / ekor / hari. Selain itu, teknologi saat ini mengungkinkan bagi pemeliharaan sapi perah FH didaerah panas yaitu dengan menggunakan teknologi close house system yang memanipulasi suhu dan kelembaban udara didalam kandang sehingga sapi merasa seperti di daerah sub tropis.

Peternakan sapi perah pertama kali di Indonesia berlokasi di Bandung, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, pada masa Hindia Belanda. Di dalam catatan sejarah di Wilayah Bandung pada tahun 1938 terdapat 22 usaha pemerahan susu dengan produksi 13.000 liter susu per hari. Susu ini ditampung oleh Bandoengsche Melk Centrale untuk diolah secara pasteurisasi sebelum didistribusikan kepada pelanggan di dalam maupun di luar kota Bandung. Namun demikian, situasi ketika itu menempatkan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat kelas dua sehingga ada anggapan bahwa susu adalah minuman milik orang Belanda saja, bukan untuk pribumi. Pemahaman ini baru perlahan-lahan terhapus setelah masa kemerdekaan Indonesia. Slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” menjadi andalan Pemerintah untuk kampanye makanan bergizi yang dilengkapi dengan segelas susu sebagai penyempurna. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkembangnya pengetahuan tentang gizi berimbang, diperkenalkan konsep gizi berimbang dimana susu ditempatkan sebagai bagian dari sumber gizi bagi kesehatan manusia, terutama bagi yang berada dalam usia pertumbuhan.

Bahwa sejak tahun 1995 Direktorat Gizi Departemen Kesehatan mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang disusun dalam rangka memenuhi salah satu rekomendasi Konferensi Gizi Internasional di Roma tahun 1992 dalam rangka mencapai dan memelihara kesehatan dan kesejahteraan gizi semua penduduk. Di dalam PUGS susunan makanan yang dianjurkan adalah yang menjamin keseimbangan zat-zat gizi. Pengelompokan bahan makanan didasarkan kepada tiga fungsi yaitu sebagai: 1) sumber energi / tenaga; 2) sumber zat pembangun; dan 3) sumber zat pengatur. Untuk mencapai gizi seimbang hendaknya susunan makanan sehari-hari terdiri dari ketiga kepompok bahan makanan tersebut, yang digambarkan dalam bentuk kerusut dengan urut-urutan menurut banyaknya digunakan dalam hidangan sehari-hari. Dasar kerucut menggambarkan sumber energi, bagian tengah menggambarkan sumber zat pengatur, dan bagian paling atas menggambarkan sumber zat pembangun, dimana susu berada di dalam kelompok ini.

2. Pengolahan Susu Sapi
Untuk menghasilkan susu berkualitas dan memenuhi standar konsumsi, maka pengawasan dan penangan yang baik dilaksanakan mulai dari saat pemeliharaan sapi perah sampai dengan saat pengolahan pasca panen untuk kemudian dikemas dan disampaikan kepada konsumen akhir. Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) for Dairy Farming dan Good Manufacturing Practices adalah penting dalam rangka menjamin bahwa produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal). GAP adalah program penjaminan kualitas untuk peternakan susu yang setidaknya meliputi penjaminan kualitas dibidang: 1) kesehatan ternak; 2) pemerahan dan kualitas susu; 3) budidaya khususnya pakan dan air minum ternak; 4) kesejahteraan ternak; dan 5) lingkungan hidup ternak.

Kualitas tinggi susu mentah seharusnya mempunyai penampakan normal, demikian pula dengan aroma dan rasanya. Selain itu, susu tersebut harus memiliki kandungan mikrobia total yang rendah dan tidak mengandung bahan ekstra. Susu yang normal adalah senyawa keruh berwarna putih kekuningan. Warna kuning disebabkan oleh keberadaan karoten β didalam lemak susu. Susu normal segar memiliki rasa campuran dan sedikit manis, akibat keberadaan gula susu, yaitu laktosa. Adanya sedikit rasa asin pada susu berasal dari kandungan mineralnya. Tidak dijumpai odor spesifik pada susu normal. Karena sangat mudah menyerap odor dan rasa, maka susu harus dikelola dalam kondisi higienis selama penyimpanan maupun transportasi untuk menghindari tercemarnya susu.

Pengumpulan susu dinegara berkembang masih sederhana dan belum sebaik di negara maju. Di negara berkembang umumnya peternak belum mempunyai banyak tanki pengangkut susu apalagi yang berpendingin, kecuali di beberapa koperasi susu. Sebagian besar peternak di negara berkembang memasarkan susu dalam jumlah kecil (50 liter / hari) sehingga pembelian tangki pengangkut susu tidaklah ekonomis. Akibatnya susu harus segera dikumpulkan dan ditransportasikan sesudah pemerahan. Pada suhu tropis normal 30° – 35°C, susu hanya dapat bertahan selama 2-4 jam saja. Karena itu susu harus segera ditangani, dikumpulkan kemudian ditransportasikan secepatnya ke unit pengolahan lokal atau industri pengolahan susu (IPS). Dikenal tiga tipe pengumpulan susu, yaitu 1) langsung ke IPS; 2) dikumpulkan terlebih dahulu di pusat pengumpulan menggunakan milk can ukuran sampai dengan 40 liter kemudian IPS; dan 3) multi tahap, yaitu dikumpulkan di pusat pengumpulan, kemudian pusat antara dengan menggunakan tanki pendingin, lalu ke IPS dengan truk tanki berpendingin.

Susu yang telah memenuhi persyaratan susu segar yang aman higienis dan sehat untuk dikonsumsi selanjutkan diolah atau dikonsumsi langsung. Pengolahan susu selain dimaksudkan untuk meningkatkan nilai guna dari susu, juga bertujuan agar susu tersebut tahan lama. Teknik yang digunakan agar susu dapat tahan lama adalah pengawetan susu dan pengolahan susu. Pengawetan susu adalah proses yang dilakukan agar susu tahan lebih lama dari kerusakan yaitu dengan pendinginan (misalnya dengan memasukkan susu ke dalam freezer ataucooling unit) atau pemanasan (dengan pasteurisasi ataupun sterilisasi). Pengolahan susu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas, lama waktu susu, dan mengubah bentuk susu dalam bentuk olahan tanpa atau dengan memberikan tambahan bahan lainnya untuk meningkatkan citarasa, tekstur dan lainnya. Contoh produk olahan susu antara lain mentega, keju dan yoghurt.

Upaya memperpanjang masa simpan susu dengan cara pasteurisasi telah dikenal sejak lama. Metode ini dikembangkan oleh Louis Pasteur sekitar tahun 1860-1870, yang menemukan bahwa pemanasan cairan tertentu terutama wine hingga suhu tertentu dapat meningkatkan masa simpan cairan tersebut. Praktek ini kemudian dipergunakan pula oleh industri pengolahan susu. Pada dasarnya, pemanasan pada suhu sekitar 62°C selama 30 menit atau 72°C selama 15 menit dapat membunuh tipe-tipe bakteri yang dapat menimbulkan penyakit seperti TBC, tifoid, difteri, dan sebagainya serta membunuh jamur dan yeast yang terdapat di dalam susu sehingga susu menjadi aman untuk dikonsumsi dan memilki masa simpan lebih lama. Dua metode pasteurisasi yang umum diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Holding system. Dengan metode ini susu dipanaskan sampai sekitar 62°C atau lebih selama setidaknya 30 menit kemudian diikuti dengan pendingian secara cepat. Suhu yang lebih tinggi biasaya diterapkan di pabrik pengolahan susu dimana lama pemanasan menjadi lebih singkat, misalnya pada suhu 68°C selama 20 menit atau 73°C selama 15 menit. Dengan metode ini akan terlihat cream line (lapisan dadih) pada permukaan susu. Sistem ini sangat efisien dalam mengurangi jumlah bakteri tanpa mempengaruhi cream line.
2. High-Temperature Short-Time System. Mesin yang digunakan pada sistem ini dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan penggunaan secara tak terputus (continuous). Pada metode ini susu dipanaskan dan dialirkan dengan cepat sampai setidaknya 71°C bahkan lebih didalam mesin tersebut selama beberapa detik, diikuti dengan pendinginan secara cepat.

Susu adalah media ideal untuk pertumbuhan mikrobia sehingga kebersihan kemasan sangat perlu diperhatikan. Beberapa material digunakan untuk membuat kemasan harusnya mudah dibersihkan, steril dan dapat secara benar menjauhkan dari kontaminasi mikrobia. Saat ini produk susu dapat dijumpai dalam kemasan karton (Tetrapak) berukuran 250 ml ataupun 1 liter, khususnya untuk produk susu sterilisasi atau UHT. Beberapa jenis pengemas yang dikenal antara lain terbuat dari kertas, cellophane, aluminium foil, polypropylane film, polyesterene film dan polyamidefilm. Penggunaan pengemas ini sangat praktis sehingga berbagai produk pangan banyak menggunakan bahan-bahan pengemas tersebut.

2.3. Persaingan Dengan Susu Impor
Walaupun pasar untuk susu masih terbuka luas, namun belum tentu akan dapat dimanfaatkan oleh produsen susu dalam negeri, karena dalam merebut pasar tersebut produsen susu dalam negeri harus bersaing dengan susu impor. Produktivitas sapi perah yang masih rendah dengan skala usaha yang kecil pula berakibat pada biaya produksi yang relatif tinggi, sehingga harga susu harus tinggi pula pada tingkat peternak dan hal ini sudah barang tentu tidak akan dapat bersaing dengan harga susu impor.

Dalam satu dekade belakangan ini para produsen susu berlomba-lomba mempromosikan produknya dengan cara menambahkan zat-zat tertentu yang dipercaya dapat mencerdaskan otak,meningkatkan daya tahan tubuh, dan berbagai iming-iming lainnya. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik bagi para orang tua masa kini yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap putra putrinya. Semakin tinggi ekspektasi, semakin tinggi pengorbanan, dan bisa saja berarti semakin mahal susu formula yang harus dibeli untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Gencarnya promosi susu formula atau susu pertumbuhan (untuk 1 tahun keatas) di media cetak, elektronik, ataupun berbagai acara off-air membuat sebagian konsumen bingung memilih. Produsen semakin pintar menciptakan klaim agar produknya berbeda dengan pesaingnya. Tetapi tahukah anda, bahwa kebanyakan zat-zat `penting’ yang difortifikasi atau ditambahkan oleh para produsen tersebut sebenarnya sudah secara alami terdapat dalam susu sapi?

2.4. Susu Pasteurisasi dan Metode Pasteurisasi
Pasteurisasi, merupakan perlakuan panas yang di berikan pada bahan baku dengan suhu di bawah titik didih. Teknik ini di gunakan untuk mengawetkan bahan pangan yang tidak tahan suhu tinggi, khususnya susu. Dengan tujuan membunuh mikroorganisme Patogen negatif. Kebanyakan bakteri pathogen negatif ini merupakan bakteri mesofilik dan dapat mati pada suhu diatas 70° C. Selain itu proses pasteurisasi pada susu dapat mematikan atau menginaktifkan Enzim Fospatase dan Katalase, yang dapat menyebabkan susu cepat rusak.
Metode Pasteurisasi yang umum digunakan adalah:
– Metode Pasteurisasi HTST (Hight Temperature Short Time), yaitu pasteurisasi dengan suhu 72° –75° C selama 15 detik atau 88° C selama 1 detik.
– Metode Pasteurisasi LTLT (Low Temperature Long Time), yaitu pasteurisasi susu pada suhu 61° C – 75° C selama 30 menit sampai dengan 45 menit.

LANDASAN KAMPANYE NASIONAL GERAKAN SUSU UNTUK ANAK INDONESIA SEHAT DAN CERDAS – PERSAUDARAAN MITRA TANI NELAYAN INDONESIA (PETANI)
1. Landasan Ekonomi
– Ketimpangan kebijakan ekonomi, khususnya Pemerintahan memprioritaskan impor pangan tapi tidak dibarengi dengan membangun industri-industri pangan dalam negeri.
– Tumbuh suburnya Industri Agribisnis Kerakyatan skala menengah kecil dalam sektor pertanian dan peternakan secara mandiri, berdikari dan gotong royong telah mampu membangun basis ekonomi secara mandiri dan dapat mencukupi kebutuhan hidup setiap hari.
– Melimpahnya ketersediaan produk Susu Segar Lokal yang dikelola secara agribisnis kerakyatan tersebar di wilayah Sumatra, Jawa dan Bali mampu bersaing dengan produk susu luar negeri.
– Memberdayakan masyarakat untuk turut serta mengelola industri Agribisnis Peternakan dan Pengelolaan Susu segar berbasis kerakyatan dan gotong royong.

2. Landasan Sosial
– Menyelamatkan bangsa juga harus menyelamatkan generasi mudanya dengan melakukan pembinaan sejak dini pada anak usia sekolah.
– Untuk tumbuh kembangnya anak usia sekolah, maka segala kebutuhan esensi harus terpenuhi yakni gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan dan perlindungan.
– Rendahnya asupan gizi pada anak usia sekolah sangat berpengaruh kepada kualitas daya saing yang rendah pula sehingga Indonesia tertatih-tatih mengadapi gelombang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
– Kecukupan gizi pada tahun 2011 hanya sebesar 2,2 kg/kapita/tahun jauh dibawah standar kecukupan gizi yang direkomendasikan sebesar 6,4 kg/kapita/tahun.

3. Landasan Budaya
– Menciptakan budaya minum susu pada generasi muda khususnya anak – anak pada usia dini.
– Menumbuhkan kelompok – kelompok Petani Pembudidaya Sapi Perah yang berbasis pada kearifan lokal, mandiri, berdikari dan gotong royong.
– Menumbuhkan Kelompok – kelompok Petani Pengolahan Susu skala rumah tangga sebagai budaya yang berbasis pada kearifan lokal.

4. Landasan Kesehatan
Menurut berbagai ahli nutrisi urutan dan klasifikasi susu yang baik dan bermanfaat besar bagi pertumbuhan adalah sebagai berikut:
1. ASI (Air Susu Ibu) yang merupakan minuman terbaik untuk bayi sampai masa usia 2 tahun.
2. Susu Pasteurisasi, susu segar yang kemurnian nutrisi dan kualitas gizi tetap terjaga dibandingkan produk susu olahan lainnya.
3. Susu UHT (Ultra HighTemperature) susu yang diproses dengan suhu yang tinggi dalam waktu singkat. Pemanasan suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan nutrisi dan kandungan gizi pada susu walaupun susu mampu bertahan lama.
4. Susu Bubuk adalah susu murni yang dikeringkan namun proses pengeringan menyebabkan susu bubuk mengalami penurunan nilai gizi lebih banyak daripada susu cair segar olahan seperti susu pasteurisasi.
5. Susu Kental Manis. Sebenarnya tidaklah masuk dalam kategori susu karena hanya memiliki kandungan lemak dan juga gula yang tinggi, namun rendah protein dan kalsium.

AKHIR KATA
Bagi masyarakat pada negara berkembang sampai pada saat ini pemahaman tentang minum susu segar di tingkat masyarakat masih minim. Karena masyarakat pada saat ini masih memiliki pemikiran bahwa susu hanya untuk kalangan atas.
Mensosialisasikan KAMPANYE NASIONAL GERAKAN SUSU UNTUK ANAK INDONESIA SEHAT DAN CERDAS sebuah program kerja yang berkelanjutan.

-. Disusun oleh: Bidang Propaganda & Jaringan – Dewan Pimpinan Nasional Petani.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
WhatsApp chat