Berita PetaniPetani, Gotong Royong dalam Haluan Ideologi  Pancasila

Petani, Gotong Royong dalam Haluan Ideologi  Pancasila

petani.id – (#SDMPetaniUnggul – Artikel – Jakarta, 25/06/2020). Polemik tentang Istilah Gotong Royong sedang menjadi Pembicaraan hangat di tengah penggodokan Rencana Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Sebenarnya apa yang diperdebatkan dan dipersoalkan tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) tersebut. Terutama tentang penggunaan Istilah Pancasila, Tri Sila dan Ekasila.

Ketiga istilah itu pertama kali di cetuskan oleh Bung Karno dalam Pidato Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI. Bahwa Bung Karno menawarkan Konsep Pancasila di depan dewan yang terhormat anggota BPUPKI, dan apabila Pancasila belum bisa di terima maka Bung Karno menawarkan konsepsi Tri Sila, yaitu Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan apabila kedua konsepsi ini tidak diterima, Bung Karno tawarkan Eka Sila menjadi Gotong Royong sebagai Dasar Negara. Dan sebagai warga negara dapat menyimpulkan bahwa Pancasila adalah identik dengan Gotong Royong.

 

Watak Gotong Royong sudah ada sejak nenek moyang dan bangsa ini ada.
1. Petani sebagai penerus cita-cita Gotong Royong. Dalam Haluan Ideologi Petani konsep gotong royong ini tetap menjadi tradisi. Petani bersama – sama menanam lahan bergotong royong secara bergantian. Apabila si fulan Petani mau menanam, fulan lain Petani membantu menanam. Dan terus bergantian, sedangkan setelah panen juga semua yang bergotong royong mendapatkan bagian (Bawon) dimana pemilik tanah memperoleh 80-90 persen, dan pemanen memperoleh 10-20 persen dari seluruh panen sesuai kesepakatan yang diatur sesuai adat masing-masing. Meskipun berkembang pada konsep kapitalisme sekalipun Petani tetap menjaga tradisi dengan pemilik tanah membayar ongkos buruh tani baik saat menanam dan merawat seperti membersihkan gulma dan membasmi hama. Namun pembagian pun tetap buruh tani diberi hak 12,125 persen sampai 20 persen dari bawon yang diberikan Petani pemilik. Sehingga konsep gotong royong ini lebih memanusiakan masing – masing dan tidak ada kesenjangan sosial antara Petani pemilik dan buruh Tani.
2. Gotong Royong dalam Industri
Konsep gotong royong dalam Industri ini tidak pernah diterapkan seperti kultur budaya Petani., sehingga upah dan gaji ditentukan dalam UMP atau upah harian dan mingguan yang tidak memanusiakan buruh perusahaan. Dan tidak ada hubungan yang bersifat gotong royong dan rasa memiliki buruh pada perusahaan. Di sisi lain pihak majikan perusahaan berhak mengambil keuntungan sebesar-besarnya dan bisa juga mengalami kerugian yang begitu parah, bahkan efek domino akan mengakibatkan krisis Industri dan sektor riil. Terjadi kesenjangan antara majikan dan buruh. Buruh tiap tahun menuntut UMP naik tapi tidak berdampak banyak pada kesejahteraan buruh, karena bila upah naik otomatis harga juga naik, dan bahkan menurunkan pendapatan riil buruh.
Konsepsi gotong royong ini harus dipahami secara tepat dan cermat dan tidak bisa hanya dipandang dari satu posisi saja secara kepentingan politik praktis. Karena konsep Gotong Royong ini bila dijalankan dengan tepat seperti konsep dasar Bung Karno akan mencapai target kemakmuran dan kesejahteraan suatu bangsa, yaitu :
1. Pertumbuhan yang cepat.
2. Distribusi pendapatan yang merata.
3. Stabilitas harga – harga yang mampu menjaga daya beli.
Konsep gotong royong ini juga diterapkan dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), semisal rumah makan padang. Rumah makan Padang memberi porsi yang tepat antara beberapa tingkat:
1. Juru Masak memiliki prosentase paling besar.
2. Pemilik Warung dan pengelola.
3. Pencuci piring dan bersih ruangan.
Proporsinya kurang tahu prosentasenya. Yang jelas pola tersebut bisa membuat Rumah Makan Padang seperti jamur di musim hujan. Saya merasa bahwa menanggapi sebuah proses kebijakan kita harus berkepala dingin dengan tetap menjaga rasionalitas dan obyektifitas. Apabila konsep Haluan Ideologi Pancasila (HIP) seperti Ini cita – cita proklamasi akan tercapai.

-. Penulis: Dumadi Tri Restiyanto, SE., M.Si. – Ketua DPW Petani Jawa Tengah.

-. Editor: Departemen Propaganda – Dewan Pimpinan Nasional Petani.

spot_img

KELUARGA BESAR PETANI MENGUCAPKAN DIRGAHAYU PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO ke 74 Tahun

"Mewujudkan Pertahanan Pangan, Energi dan Air berdasarkan Pancasila dan...

Catatan Geopolitik Internasional Petani: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia yang Damai

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - 16/10/2025). Kajian Bidang Hukum...

Peraturan Presiden RI Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025 – 2029

https://petani.id/wp-content/uploads/2025/10/Perpres-Nomor-12-Tahun-2025.pdf

Aktivasi Sumberdaya Hutan Dalam Penguatan Fundamental Pertahanan Pangan Negara

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - 11/10/2025). Kajian Dewan...

Catatan Geoekonomi Nasional Petani: Industrialisasi Pangan Berkelanjutan, Strategi Pertahanan Pangan Menuju Kesejahteraan Petani

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - Jakarta, 04/10/2025). Hasil...

CATATAN GEOSTRATEGIS NASIONAL PETANI: INPRES 14/2025 AKHIRI HEGEMONI PANGAN, ENERGI DAN AIR JALAN MENUJU KEADILAN SOSIAL

www.petani.id – (#SDMPetaniUnggul – Editorial – Jakarta, 20/09/2025). Kajian...

Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto

petani.id - Jumat, 29 Agustus 2025, Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi...

CATATAN GEOPOLITIK NASIONAL PETANI : INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 14/2025 HARAPAN MEMBANGUN TATANAN PANGAN BARU

www.petani.id - (#SDMPetaniUnggul - Editorial - Jakarta, 24/08/2025). Kajian...
spot_img
WhatsApp chat